Ini adalah judul Bab 3 dari buku “I Don’t Need a Record Deal, (Your Survival Guide for The Indie Music Revolution)” karya Daylle Deanna Schwartz.
Kalimat pertama pada bab ini adalah :
”Not everyone is cut out to be an independent musician” (p.46)
Saya sangat setuju bahwa tidak semua orang harus (bisa) menjadi musisi independen karena ini adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi musisi independen selayaknya memiliki alasan yang kuat dengan pertimbangan yang matang. Bab ini menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang musisi yang hendak terjun ke dunia musik independent.
Silahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Have you done everything you can to be as good as possible?
2. Can you trade dreams of being a star for the reality of making a living from your music?
3. Are you willing to bend with suggestions from others?
4. How much time are you willing to devote to your music career, including touring?
5. How big are your balls?
Buku ini menekankan bahwa kita (musisi independent) harus benar-benar mandiri. Kita harus yakin dengan usaha kita dalam mengerjakan karya kita. Tentu saja dengan tetap open-minded. Berusahalah yang terbaik dan semaksimal mungkin karena hanya kita yang tahu apa yang terbaik untuk musik kita. Bahkan buku ini mengajurkan bagi musisi untuk terus mengembangkan skill yang kita miliki. Jangan ragu-ragu untuk melakukan apapun hingga sampai pada tahap BAGUS! Latihan sebanyak mungkin dan seefektif mungkin.
Alex Woodard, seorang penyanyi-penulis lagu mengatakan, ”Be the absolute best you can be. When you are that good, get better. Don’t waste time complaining about not being where you think you should be, or bitching about the bad music that’s out, when it should be yours. There aren’t many folks with absolutely amazing songs, that play them with everything they have. Spend your time being one of them”. (p.47)
Apakah dirimu punya harapan-harapan yang realistis ketika jadi musisi Independen?
Saya jadi teringat kata-kata Mas David Karto ketika saya dan Rhesa ”melamar” untuk menjadi bagian dari demajors. Mas David pernah bertanya kepada kami..
”Endah dan Rhesa, dengan musik kalian yang seperti ini dan industri musik saat ini, apa yang kalian harapkan dari album Nowhere to Go? Saya hanya ingin kalian ’sadar’ dari awal bahwa jangan sampai terjadi harapan yang terlalu besar sehingga nanti kalian kecewa apabila ternyata setelah berjalan semua tidak sesuai apa yang kalian impikan.”
Lalu kami pun menjawab..
”Kami siap dengan apa pun yang akan terjadi, Mas David. Dan kami sangat terbuka jika ada masukan-masukan yang positif bagi kami dan album Nowhere to Go.”
Dengan arti kata lain… ya.. kami siap kalau penjualan CD kami tidak sebanyak yang kami perkirakan. Kami siap kalau ternyata CD kami tidak diputar di beberapa radio karena single-nya terlalu berat dan berbahasa Inggris. Kami siap dengan berbagai kemungkinan terburuk yang menghadang kami suatu hari nanti. Namun ternyata, di tengah perjalanan album Nowhere to Go ini, kami mendapat banyak respon positif yang sangat menggembirakan. Semoga spirit ini akan terus berjalan dan menjadi lebih baik untuk kita semua.
Meskipun isi buku ini menarik, tapi ada satu statement yang menurut saya kurang pas… :
“Do you want a career or a hobby? Musicians often complain that business and practically get in the way of their creative process. They just want to do their music and not deal with any of the business. If this is you, keep your day job and do music as a hobby; you’re not really serious about an independent music career.” (p.48-49)
Hahaha.. inilah enaknya di Indonesia. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan di negara ini. Banyak teman kami yang bisa terjun ke dunia musik independen dengan terus bekerja di kantor mereka. Mereka tetap bisa membuat musik yang unik dan bagus. Ada nilai tersendiri bagi mereka yang bekerja sekaligus bermusik baik dari segi artistik maupun konsep yang ditawarkan. Ada pula beberapa teman saya, yang juga memiliki pekerjaan tetap sebagai desainer, membuat album bahkan juga merchandise grup mereka. Saya kagum dengan kemampuan mereka membagi waktu dan tercengang dengan desain album mereka yang menarik… of course… karena mereka sendiri yang merancangnya. Di sisi lain… masing-masing mereka tetap berprofesi di bidangnya masing-masing.. ada yang menjadi jurnalis, grafik desainer, editor film, pengacara, karyawan bank, guru musik, dan sebagainya. Dan mereka tetap bisa membuat album bagusssss. Hahaha!
Disini saya sampai pada kesimpulan bahwa negara ini sangat beruntung memiliki manusia-manusia yang berbakat dan kreatif… atau… kita yang beruntung tinggal di negara ini sehingga kita bisa memiliki bakat dan kreatifitas? Huahaha… the answer is yours…
cheers,
Endah



