Tag Archive | "independent music"

Tags: , ,

Do You Have What It Takes to Be Independent?

Posted on 03 June 2009 by Endah Widiastuti

Ini adalah judul Bab 3 dari buku “I Don’t Need a Record Deal, (Your Survival Guide for The Indie Music Revolution)” karya Daylle Deanna Schwartz.

Kalimat pertama pada bab ini adalah :

”Not everyone is cut out to be an independent musician” (p.46)

Saya sangat setuju bahwa tidak semua orang harus (bisa) menjadi musisi independen karena ini adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi musisi independen selayaknya memiliki alasan yang kuat dengan pertimbangan yang matang. Bab ini menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang musisi yang hendak terjun ke dunia musik independent.

Silahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Have you done everything you can to be as good as possible?
2. Can you trade dreams of being a star for the reality of making a living from your music?
3. Are you willing to bend with suggestions from others?
4. How much time are you willing to devote to your music career, including touring?
5. How big are your balls?

Buku ini menekankan bahwa kita (musisi independent) harus benar-benar mandiri. Kita harus yakin dengan usaha kita dalam mengerjakan karya kita. Tentu saja dengan tetap open-minded. Berusahalah yang terbaik dan semaksimal mungkin karena hanya kita yang tahu apa yang terbaik untuk musik kita. Bahkan buku ini mengajurkan bagi musisi untuk terus mengembangkan skill yang kita miliki. Jangan ragu-ragu untuk melakukan apapun hingga sampai pada tahap BAGUS! Latihan sebanyak mungkin dan seefektif mungkin.

Alex Woodard, seorang penyanyi-penulis lagu mengatakan, ”Be the absolute best you can be. When you are that good, get better. Don’t waste time complaining about not being where you think you should be, or bitching about the bad music that’s out, when it should be yours. There aren’t many folks with absolutely amazing songs, that play them with everything they have. Spend your time being one of them”. (p.47)

Apakah dirimu punya harapan-harapan yang realistis ketika jadi musisi Independen?

Saya jadi teringat kata-kata Mas David Karto ketika saya dan Rhesa ”melamar” untuk menjadi bagian dari demajors. Mas David pernah bertanya kepada kami..

”Endah dan Rhesa, dengan musik kalian yang seperti ini dan industri musik saat ini, apa yang kalian harapkan dari album Nowhere to Go? Saya hanya ingin kalian ’sadar’ dari awal bahwa jangan sampai terjadi harapan yang terlalu besar sehingga nanti kalian kecewa apabila ternyata setelah berjalan semua tidak sesuai apa yang kalian impikan.”

Lalu kami pun menjawab..

”Kami siap dengan apa pun yang akan terjadi, Mas David. Dan kami sangat terbuka jika ada masukan-masukan yang positif bagi kami dan album Nowhere to Go.”

Dengan arti kata lain… ya.. kami siap kalau penjualan CD kami tidak sebanyak yang kami perkirakan. Kami siap kalau ternyata CD kami tidak diputar di beberapa radio karena single-nya terlalu berat dan berbahasa Inggris. Kami siap dengan berbagai kemungkinan terburuk yang menghadang kami suatu hari nanti. Namun ternyata, di tengah perjalanan album Nowhere to Go ini, kami mendapat banyak respon positif yang sangat menggembirakan. Semoga spirit ini akan terus berjalan dan menjadi lebih baik untuk kita semua.

Meskipun isi buku ini menarik, tapi ada satu statement yang menurut saya kurang pas… :

“Do you want a career or a hobby? Musicians often complain that business and practically get in the way of their creative process. They just want to do their music and not deal with any of the business. If this is you, keep your day job and do music as a hobby; you’re not really serious about an independent music career.” (p.48-49)

Hahaha.. inilah enaknya di Indonesia. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan di negara ini. Banyak teman kami yang bisa terjun ke dunia musik independen dengan terus bekerja di kantor mereka. Mereka tetap bisa membuat musik yang unik dan bagus. Ada nilai tersendiri bagi mereka yang bekerja sekaligus bermusik baik dari segi artistik maupun konsep yang ditawarkan. Ada pula beberapa teman saya, yang juga memiliki pekerjaan tetap sebagai desainer, membuat album bahkan juga merchandise grup mereka. Saya kagum dengan kemampuan mereka membagi waktu dan tercengang dengan desain album mereka yang menarik… of course… karena mereka sendiri yang merancangnya. Di sisi lain… masing-masing mereka tetap berprofesi di bidangnya masing-masing.. ada yang menjadi jurnalis, grafik desainer, editor film, pengacara, karyawan bank, guru musik, dan sebagainya. Dan mereka tetap bisa membuat album bagusssss. Hahaha!

Disini saya sampai pada kesimpulan bahwa negara ini sangat beruntung memiliki manusia-manusia yang berbakat dan kreatif… atau… kita yang beruntung tinggal di negara ini sehingga kita bisa memiliki bakat dan kreatifitas? Huahaha… the answer is yours… ;)

cheers,
Endah

Comments (0)

Tags: ,

Why Be Independent?

Posted on 01 June 2009 by Endah Widiastuti

Ini adalah judul Bab 2 dari buku yang saya baru saya beli hari Sabtu kemarin di Coffeewar, kafe kopi nikmat di Kemang Timur. Saya tertarik melihat judul buku ini. “I Don’t Need a Record Deal, (Your Survival Guide for The Indie Music Revolution)” karya Daylle Deanna Schwartz.

Buku yang ditulisnya tahun 2005 sangat menarik. Bab 1 isinya adalah daftar nama 150 orang yang bergerak di industri musik yang menjadi narasumber bagi bukunya. Tercantum nama, bidang yang ditekuni dan jabatan dalam industri yang dikerjakan. Lalu, hari ini saya membaca Bab 2 yang membuat saya sangat terinspirasi.

“I believe that independence breeds happiness, and happiness breeds creativity. Too many artists are unhappy with their record deals. Many don’t have the creative freedom that leads to their best work.” (p.32)

Kalimat pertama dalam bab ini membuat saya tercengang…

“I love being independent – in every way. It gives me freedom and a platform. I feel like independent artists are in the front covered wagon in a whole new frontier. No one knows where we’re going yet. I love the word independent and everything that goes along with it.” (David Ippolito, p.32)

Kutipan kalimat dari David Ippolito membuat saya kembali tersadar.. WHY BE INDEPENDENT? Kalimat tanya itu menjadi pondasi dasar buat kami… Endah N Rhesa… 4 tahun lalu ketika memutuskan untuk menjadi musisi independen. Banyak sekali pertanyaan yang ditujukan kepada Endah N Rhesa, “Kalian nggak mencoba ke major label?”.

Menjadi musisi independen adalah pilihan. Kami memilih untuk menjadi musisi independe bukan karena kami tidak PeDe dengan musik kami. Bukan karena kami sudah memiliki keyakinan bahwa musik kami hanya bisa dinikmati segelintir orang… bukan.. bukan itu. Kami menyadari bahwa musik kami layak untuk dinikmati banyak orang karena hasil rekaman yang baik dan desain cover yang baik. Setidaknya, kami sudah mencapai batas maksimal saat memproduksi CD Nowhere to Go. Batas maksimal kemampuan, fasilitas, dan dana yang ada.

Kami memilih untuk menjadi musisi independen karena alasan yang sama dengan Mr. Ippolito di atas. Hey… industri musik ini menarik. Apalagi di Indonesia… wow! Sangat menarik! Saya dan Rhesa tidak mau hanya sekedar menjadi ”pengikut” dari alur industri yang ada. Kami ingin belajar banyak dari industri ini. Bagaimana cara kami memproduksi album, biaya duplikasi, membangun manajemen dengan cara belajar banyak hal melalui demajors, berhubungan dengan media, dan yang terpenting adalah berinteraksi secara intensif dengan pendengar musik kami.

Bab ini juga membahas fakta bahwa industri major label melibatkan uang dalam jumlah yang sangaaaaat besar. Jadi wajar sekali apabila musisi yang masuk ke dalam industri major dan harus berkompromi dengan banyak hal, tentu saja berkaitan dengan menjual sebanyak-banyaknya demi keuntungan sebesar-besarnya. Banyak musisi yang masuk ke dalam industri major label kecewa ketika banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka karena musisi-musisi tersebut tidak menyadari bahwa ada suatu sistem bisnis yang tidak mereka ketahui. Mendanai rekaman sebuah band dan duplikasi minimal 10.000 keping plus promosi membutuhkan biaya ratusan juta rupiah. And i believe… there’s no free lunch for bussiness. Tapi untuk musisi yang sadar dengan bisnis ini, maka mereka tahu bagaimana “bermain” di dalamnya dan tetap bisa tidur dengan nyenyak.

Bab ini memberi contoh beberapa musisi yang berangkat dari dunia independen seperti Dave Matthews Band, yang akhirnya mereka bekerja sama dengan Major label. Salahkah? Oh, tidak! Sejauh Si Major Label akhirnya mau mengakomodir semua keinginan musisi tersebut. Dave Matthews Band gitu loh.. tentu saja DMB berhasil membuktikan dirinya setelah menjual ratusan ribu kopi secara independen lalu Si Major Label tertarik untuk bekerja sama dengan menerima si DMB ini apa adanya.

”Being independent gives you control over your career. That doesn’t mean you’ll succeed, but it’s an opportunity”. (p. 38)

I love this phrases. Yang kita butuhkan adalah kesempatan. Kesempatan untuk menciptakan, didengar, mendapatkan keuntungan, membuktikan bahwa kita BISA. Dan kita harus memiiki kontrol terhadap apa yang kita kerjakan.

Saya dan Rhesa memiliki karakter yang sama dalam hal ini. Kami sama-sama senang memegang kendali terhadap hal-hal yang kami kuasai. Kalau pun kami tidak tahu maka kami akan mempelajari ilmunya sampai bisa. Dan ada keyakinan bahwa kami BISA. Saya rasa ini bukan karakter EGOIS atau IDEALIS. Ini adalah karakter LEADER. Rhesa memiliki kekuatan dalam konsep. Hal tersebut dapat dilihat dari konsep album Nowhere to Go, desain gambar dan cerita-cerita di dalamnya. Cek saja www.endahnrhesa.com , Rhesa-lah yang membuat website kami. Rhesa juga memiliki insting bisnis yang bagus. Dia juga tahu strategi dalam memasarkan suatu produk tanpa terkesan murahan. Dan Rhesa sangat perfeksionis dalam mengerjakan segala hal, terutama masalah konsep dan produksi.

Sedangkan saya adalah orang yang HARUS tahu teknis dan detail pengerjaannya. Baik sisi dealing kontrak dan bahasa hukumnya, negosiasi, detail acara, jadwal, keuangan, sampai dengan strategi marketing dan promosi. Saya harus tahu banyak hal, tetapi bukan berarti saya yang harus mengerjakannya. Beruntung saya punya kakak ahli hukum dan jagoan bikin kontrak, jadi setiap saat saya bisa berkonsultasi mengenai kontrak dengan dia. Beruntung saya punya teman-teman demajors yang sarat pengalaman dalam masalah bisnis musik dan saya pun belajar banyak dari mereka. Beruntung saya berada di tengah-tengah manusia yang kritis terhadap industri musik saat ini, sebut saja beberapa teman seperti David Karto, Danny Ardiono, Cozy Street Corner, Bonita, Anda, Abang Edwin, Wendi Putranto, Rendi Raditya, Andre Harihandoyo, Ralmond, dan… banyak lagi… yang setiap saat bisa berdiskusi dan tentu saja saya menimba ilmu setiap kali bercakap-cakap dengan mereka.

Kembali lagi ke bab Why Be Independent?

Kenapa?

Saya ingat ketika di Singapura minggu lalu dalam, berbincang-bincang dengan pria baik hati bernama Rama Dewa. Rama berbaik hati memberikan tempat bagi kami untuk singgah di tempatnya untuk meringankan biaya kami di sana. Selain itu saya mendapatkan pesan yang cukup berarti dari Rama.

“Kalau lu yakin dengan apa yang lu jalani ya terusin aja. Kalau lu bangga dengan pekerjaan lu, gue rasa lu nggak akan mempermasalahkan apakah duit lu banyak atau enggak. Karena kaya atau miskin itu relatif. Tapi kalau lu bangga dan bahagia dengan apa yang lu kerjakan itu nilainya sudah lebih dari apa pun.”

Saya terhenyak… I am full time musician. Independent. Kaya? Yang pasti, saya BAHAGIA dan BANGGA terhadap apa yang saya kerjakan.

Why be Independent? Silahkan baca lagi kutipan kalimat dari halaman 32 dan 38 yang saya tulis di atas.

cheers,
Endah Widiastuti

Comments (0)

  • --> -->